Untuk Kalian Yang Gagal SNMPTN
Tepat 9 April 2020, Akun media sosial saya kembali dipenuhi oleh berbagai kabar pengumuman hasil SNMPTN atau yang biasa disebut juga jalur undangan. Pengumuman yang seharusnya dilakukan pada tanggal 4 April 2020 terpaksa diundur menjadi 8 April 2020 akibat dunia yang sedang dilanda sebuah pandemik Covid-19. Melihat kabar pengumuman tersebut, saya kembali teringat lagi betapa kerasnya usaha saya ketika ingin masuk ke prodi yang saya impikan dan ke perguruan tinggi yang juga saya impikan sejak masih duduk dibangku Sekolah Menengah Pertama. Mungkin kali ini saya akan menceritakan pengalaman hidup saya semasa SMA yang mungkin saja bisa menjadi motivasi bagi siswa SMA di luar sana.
. . .
Semua berawal ketika gue pertama kali duduk di bangku SMA. Ketika itu, rasa percaya diri sedang tinggi-tingginya dikarenakan gue berhasil masuk salah satu SMA negeri favorit di daerah gue dan masuk sebagai murid jurusan IPA dimana itu merupakan hal yang cukup membanggakan bagi gue karena salah satu persyaratan untuk masuk ke prodi yang sudah gue impikan sejak SMP harus melalui jurusan IPA.
Seminggu pertama berjalan cukup baik dimana saat itu gue sedang semangat-semangatnya untuk mengejar nilai demi lolos jalur undangan. Namun pada minggu kedua, gue pun langsung mengalami shock culture karena tiba-tiba langsung menghadapi ujian Matematika di minggu kedua saya di bangku SMA. Saat itu, hanya sedikit materi yang gue mengerti dikarenakan baru dua pertemuan untuk mempelajari materi tersebut. Ternyata benar hal yang gue takutkan akhirnya terjadi juga, gue mendapat nilai 56 di ujian pertama saya di bangku SMA. Saat itu, dunia serasa runtuh, impian gue mengejar jalur undangan untuk masuk ITB pun kian memudar.
Hari demi hari di kelas 10 terus saya lewati dengan nilai yang buruk di mapel Matematika, Fisika, dan Kimia, Ketika itu, saya mulai berpikir "Kayanya gue salah jurusan deh" dan " Kalau kaya gini terus sudah mustahil gue bisa diterima di ITB lewat jalur undangan dengan nilai amburadul seperti ini". Pada akhirnya gue naik kelas dengan nilai yh bisa dibilang jelek kagak bagus apalagi yh standarlah ibaratnya.
Di kelas 11 lah bisa dibilang masa-masa terburuk di hidup gue sejauh ini yang pernah gue lalui. Hal yang gue pikir gak bakal pernah terjadi di kehidupan gue justru malah terjadi. Ya, hal yang gue kira hanya bakal terjadi pada hidup Nobita di film animasi Doraemon justru juga terjadi di hidup gue yaitu dapet nilai 0 pas ujian harian. Bukan hanya sekali, tapi sampai dua kali di pelajaran Fisika dan Matematika. Sehingga dapet nilai 28 di UAS Matematika Minat udah gue anggep biasa aja gitu. Bahkan yang terburuknya lagi gue mempunyai rekor selalu remed tiap ujian Matematika dari kelas 10 sampai kelas 11 dan sempet dibilang bodoh sama guru Matematika gue didepan kelas karena selalu gak nyambung tiap disuruh maju kedepan. Padahal gue udah makai Zenius tapi gak gw manfaatin dengan baik karena kemalasan belajar gue, keseringan gue nonton bola sampe begadang, dan main PS 3 sampe lupa belajar. Sampai guru gue request ke orang tua gue pas bagi raport untuk nyuruh gue buat daftar bimbel online karena disaat itu gue terancam gak naik kelas karena nilai gw yang anjlok seanjlok-anjloknya. Yah, akhirnya gue beruntung bisa naik kelas walaupun dapet peringkat 33 dari 36 orang.
Nah, di kelas 12 ini lah titik balik kehidupan gue, ketika gue berhasil inget-inget lagi, apasih tujuan gue dari awal masuk SMA ini. Mengingat kembali bagaimana senangnya gue saat lewat ITB tiap pulang ke Bandung dan juga bagaimana harapan-harapan dari nenek serta kakek gue yang pengen banget cucunya bisa kuliah di Bandung. Saat